//
you're reading...
cerpen

Itu Cinta…

“Aku tak mampu terpejam tanpa mengingat wajahnya yang secerah matahari terbit.” Mataku menerawang, menatap birunya langit.
“Tidak juga bisa kulupakan senyumannya yang seindah mawar mekar,” lanjutku.
Aku berakting, seolah sedang membaca sesuatu di tanganku. “Pandangan matanya jernih, membuatku menemukan kedamaian. Berkilau seolah embun yang tersiram sinar mentari”
Kubuat jeda sesaat dengan menarik napas.
“Mau tak aku harus mengakui. Aku jatuh cinta padanya, setiap hari.” Objek yang kumaksud memandangku seksama dengan senyum yang tak kunjung pupus dari wajahnya. Ah, aku bisa tak tidur satu minggu. Dengan bodohnya, otakku akan melukis senyuman itu dengan sempurna sepanjang malam. Namun, aku segera menguasai diriku.
“Seperti matahari yang tak bosan mencintai bumi..”
Rea mengacungkan kedua jempolnya, “Great!” komentarnya. Gadis itu tersenyum di hadapanku. Dia sama sekali tidak tahu, dialah yang sedang aku bicarakan. “Ary, aku ngga’ tahu lho… ternyata kamu jago juga berpuitis-puitis gini, hehehe”
Aku tersenyum membanggakan diri, sambil menepuk-nepuk dadaku. “Kamu udah temenan sama aku empat tahun, masa gak sadar aku ini adalah titisan dari Khalil Gibran, and my name is Ary Gibran.” Rea tertawa dan menjejak kakiku dengan kuat. Dia gemas. Aku mengaduh.
Dimana setting kejadian ini? Ada yang tahu?
Ah, kalian bisa bayangkan kami berdua sedang berada di tepi pantai. Mengobrol ringan ditemani oleh deburan ombak dan semilir angin. Atau kalian bisa bayangkan kami berdua sedang ada di dalam sebuah restoran dengan dinding kaca dan pemandangan air terjun di kiri kami. Berdua mengobrol seolah dunia hanya milik kami. Atau kalian bisa bayangkan kami berdua sedang ada di sebuah taman indah dengan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu yang tak hentinya menari-nari di atasnya. Tapi kami tidak berada di semua tempat itu. Kami berdua ada di kantor, ruang meeting, dengan belasan orang lain yang masih ribut mengobrol sambil menunggu bos kami datang untuk memulai rapat.
Nah, he’s coming, “Yap. Mari kita mulai rapat kita hari ini.” Bos membuka agenda kami siang itu.

“Ary, mau temani aku cari buku?” sebuah pekikan tertahan di belakangku membuat aku menoleh, Rea sedang berlari kecil menyongsongku, jarak kami hanya terpaut beberapa langkah. Aku berhenti. Ah, bidadari ini, ajakan apapun darimu tidak akan mungkin aku tolak, my dear..
em,… kecuali nyebur sumur, mungkin akan aku pertimbangkan.
“Kemarin aku dapat tugas dari dosen, dan belum selesai-selesai karena aku gak punya buku tentang tema itu.” Jelasnya sambil berjalan menjajariku. Rea sedang menempuh studi magisternya, satu mimpi yang sempat dia tunda beberapa tahun. Setelah perjuangan panjang mengirim proposal beasiswa kesana-kemari barulah ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikannya itu. Gadis itu seperti tak punya lelah. Padahal jam kerja kami termasuk padat dan menyita energi, tapi ia tetap konsisten dengan mimpinya. Dia berkata padaku suatu ketika; ‘istirahat itu di sorga, Ry..’ diiringi senyumannya yang seindah matahari terbit.
“Kita kemana? Toko buku atau perpus?” aku bertanya, padahal aku sudah tahu jawabannya.
“Perpus.” Lebih hemat. Begitu madzhab Rea.

Panas terik matahari menyengat wajah saat kami melangkahkan keluar dari kantor. Akan tetapi karena jarak antara kantor-perpustakaan kota tidak lebih dari 30 meter, kami memutuskan untuk meniti trotoar ke tempat tujuan.
“Bip.” Handphone Rea berbunyi, ada sms masuk. Sahabat karibku itu tersenyum saat membaca sms yang diterimanya. Kemudian jari-jarinya sibuk mengetik jawaban untuk sms itu dengan ceria. Gadisku nampak bahagia sekali. Namun, bukan itu yang menjadi poin penting dari kejadian hari ini. Tapi poinnya adalah kalimat yang ia ucapkan setelah itu. Kalimat yang berhasil dengan sukses membuat hatiku kacau balau selama 1 bulan kemudian.
Dia berkata dengan wajah yang berseri-seri. “Aku jatuh cinta, Ry..” rasanya langit runtuh tiba-tiba. Tuhan.. apakah cinta yang baru tumbuh ini harus aku pupuskan sekarang? Ah, tidak Ary, nanti dulu, jangan buru-buru ambil kesimpulan.
“Hahaha… paling kamu bohong, sama siapa?” remehku jenaka.
“Yang jelas bukan sama kamu kaliii… hahahhaa..” aku tidak tahu Rea serius atau tidak dengan apa yang ia katakan barusan. Tapi aku sungguh berharap ia tidak serius.
Tuhan.. semoga bidadariku ini sedang berbohong.

Aku tidak mengerti hatiku. Tapi rasanya selalu ‘nyeri’ setiap kali aku melihat Rea tersenyum bahagia sambil menjentikkan jari-jarinya di atas tuts handphone. Oke, aku memang bahagia melihat dia bahagia, tapi aku juga tidak bisa memungkiri, jika dia bahagia karena mencintai dan dicintai orang lain, aku jelas terluka. Hatiku seperti diiris-iris, lidahku pahit seolah baru makan empedu, badanku rasanya lemas dan bagai orang sakit. Apakah dia sedang mengobrol dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta? Apakah benar dia sedang sungguh jatuh cinta? Kepada siapa dia melabuhkan cintanya? Kenapa bukan padaku?

“Ry? Ada apa? Kamu kenapa?” Doni menegur seraya menepuk bahuku. Aku tersadar dari lamunan.
“eh-oh… em.., baik-baik saja, apa yang bisa kubantu Don?” ujarku kikuk. Doni hanya menatapku aneh. “Kamu kenapa?” ulangnya. Matanya menatapku dan Rea – yang masih juga sibuk tersenyum – tertawa-bahagia – membaca sms dan menjawabnya – bergantian. Aku baru menyadari sikap kalutku tadi.
“Ah, tadi. Gak papa kok..” elakku. “Tadi kamu kemari nyari apa?” aku mengalihkan perhatian Doni. Sekarang bukan saat yang tepat menbagikan apa yang sedang berkecamuk di kepalaku kepada orang lain. Orang terdekat atau Rea sekalipun.

Akhir pekan begini, biasanya Rea mengajakku menemaninya gerilya buku di berbagai perpustakaan. Tapi tidak selama 3 minggu terakhir ini. Rea bahkan tidak lagi menghubungi aku. Sepertinya dia sibuk sekali dimabuk cinta. Dan aku sendiri, sekarang sedang sangat sibuk sekali memikirkan kenapa Rea harus sibuk sekali dengan cintanya?
Jika ada yang bertanya padaku, apa bisa manusia menghindar dari cinta? Akan kujawab tak bisa. Dan kalaupun bisa, maka aku orang pertama yang akan memilih hal itu. Menghindar dari cinta. Menghindar dari luka, menghindar dari nyeri yang tidak ada habisnya, karena memikirkan betapa malang nasibku harus memendam perasaan dan tidak terbalaskan. Jika tahu cinta akan begini menyiksa, aku akan memilih tidak jatuh cinta. Tapi nyatanya? Oh, malang sekali manusia, tak ada yang bisa selamat dari jatuh cinta.
“Apakah aku sedang patah hati?”
Ah, lebih baik aku cari tahu langsung dari sumbernya. Kuketik pesan singkat dan kukirim pada Rea. “Smbong skali, sjk jatuh cinta jadi ga prnah nyari aq lg.”
Agak lama aku menunggu jawaban Rea. Dia membalas, “Ahaaayy… bwt ap nyari kmu? :p”
Pendek saja aku menjawab, “Jahat! ?”
Tak lama setelah itu Rea membalas lagi, dia tulis, “Ary… klw aq lg jth cinta, g mgkn kan nyari objkya? hoho..”
“Objek?” Apakah yang dia maksud aku?

Doni duduk di atas motornya, rekan kerjaku itu sedang bersiap untuk pulang. “Bisa jadi dia memang jatuh cinta, Bro. Kamu ikhlaskan saja lah..” godanya. Aku tersenyum kecut. Sebenarnya aku tidak biasa bercerita masalah sepribadi cinta kepada siapapun. Tapi sms Rea, sikapnya dan pradugaku, membutuhkan konsultan, kurasa.
“Tapi tenang saja. Jika Rea benar jodohmu, tanpa perlu kau kejar dia akan datang sendiri.” Nasehat yang kontradiktif. Biasanya orang akan menasihati untuk mengejar cinta, sedang dia? Malah menyuruhku menunggu. Apa yang harus aku tunggu? Rea pergi bersama yang lain karena tidak kukejar, begitu?
“Nasehatmu lebih cocok untuk perempuan.” Sahutku. Doni tertawa. “Buktikan saja omonganku,” katanya di antara tawa seraya berlalu.

Hp-ku berdenting, ada sms masuk. Dari Rea?
“Ah, aq cpk gni. Udh aj kli Nas, aq ky bysa aj am Ary… mgkin prsaanq cma sblah tgn. Aq g pa2 kok, cma jd shbat aj.. yg pntg ttp d dkt dy..”
Sepertinya ini sms nyasar. Tapi aku tersenyum membacanya. Jadi benar dia jatuh cinta padaku? Tuhan .. betapa bahagia hatiku.
“Ary!” Panggil Rea. Aku menoleh, dan menemukan dia beberapa langkah di belakangku. Tersenyum dengan senyuman yang selalu kurindukan setiap hari. Dia tersenyum untukku.
Begitu ia dekat, ia berkata; “temenin ke perpus yuk… bete ni, beberapa hari ke perpus sendirian, ternyata gak enak yaa.. hehehe..” jelasnya.

Kami berjalan beriringan. “tahu ngga’ Ry, kemarin dosenku.. bla.. bla.. bla…” aku sudah tidak mendengarkan lagi. Pikiranku terlanjur merajut sejuta mimpi berdua, hatiku memekarkan berjuta bunga. I got her back. Tepat di depan pintu perpustakaan saat ia masih asyik bercerita tentang kuliah, dosen, kampus dan teman-temannya, sedang tangan kanannya mendorong gagang pintu, aku berkata sambil menatap dalam ke matanya, “Will you marry me?”
Rea terpaku, tidak berkata-kata. Tidak juga meminta aku mengulangi pertanyaanku. Hingga seseorang menuju pintu hendak keluar. Dia tersadar dan hanya tersenyum. Lirih sekali aku mendengar ia menjawab, diiringi suara langkah kaki kami yang beradu dengan lantai perpustakaan. “Yes.”Doni benar, cinta yang benar untukmu, akan kembali padamu, tanpa perlu kau kejar.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 391 other followers

December 2013
M T W T F S S
    Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Flag Counter
Powered by Wordpress ~ Designed by WooThemes ~ Redesigned by Aditia Nugraha

Artikel Terlaris Pilihan Pembaca

Cara Reset MikroTik Dengan Netinstall , Sebuah alternatif untuk reset setting mikrotik agan di Mikrotik RB750 atau RB751. Cara reset mikroTik dengan netinstall ini mungkin dah paling extreme kali yak Baca selengkapnya »

%d bloggers like this: